Sejarah Batik Indonesia hingga Ditetapkan Jadi Warisan Dunia
Sejarah Batik di Indonesia
Sejarah batik di Indonesia terkait dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Jawa. Batik mulai dikembangkan pada masa kerajaan Mataram, kemudian berlanjut di masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Batik awalnya hanya digunakan dalam keraton untuk pakaian para raja dan keluarganya, tetapi mulai diproduksi oleh masyarakat umum dan menjadi populer sebagai pakaian. Batik tradisional menggunakan bahan pewarna alami, seperti tumbuhan pohon mengkudu, soga, soda abu, dan tanah lumpur.
Pembuatan batik memiliki berbagai jenis teknik, seperti batik tulis, batik cap, dan batik printing. Selain itu, terdapat beragam motif batik dengan makna filosofis yang berbeda.
Batik telah berkembang pesat dan diproduksi oleh berbagai daerah di Indonesia, masing-masing dengan ciri khasnya sendiri. Selain itu, batik juga telah meraih pengakuan internasional dan menjadi bagian dari dunia mode global dengan berpartisipasi dalam berbagai pagelaran fashion show di berbagai kota internasional, seperti New York dan Milan.
Penetapan Batik sebagai Warisan Dunia
Batik ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO pada tahun 2009. Hal ini terjadi dalam sidang ke-4 Komite Antar Pemerintah tentang Warisan Budaya Tak Benda di Abu Dhabi pada tanggal 2 Oktober 2009.
Saat itu, batik diakui bersama dengan beberapa unsur budaya lainnya, seperti wayang, keris, noken, dan tari Saman, sebagai Bagian dari Warisan Budaya Takbenda Manusia atau Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.
walnya, batik diperkenalkan kepada dunia internasional oleh Presiden Soeharto saat mengikuti konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Batik Indonesia kemudian didaftarkan untuk mendapatkan status Intangible Cultural Heritage (ICH) melalui UNESCO pada tanggal 4 September 2008 di Jakarta.
Lalu, pada 9 Januari 2009, pengajuan batik untuk Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO diterima secara resmi, dan batik dikukuhkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak Benda dalam sidang keempat Komite Antar-Pemerintah yang diselenggarakan oleh UNESCO di Abu Dhabi pada tanggal 2 Oktober 2009.
Presiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menjadikan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009 yang dikeluarkan pada tanggal 17 November 2009. Hingga kini, Hari Batik Nasional (HBN) diperingati setiap tahun pada tanggal 2 Oktober.
Metode membatik selain menggunakan alat bernama canting, dapat pula dilakukan menggunakan cap. Batik yang dihasilkan sering disebut dengan batik cap.
Pembuatan batik ini menggunakan alat cap balok berbentuk dadu yang terbuat dari kayu atau bisa juga terbuat dari bahan kuningan atau tembaga (canting cap).
Canting cap yang digunakan umumnya berukuran 8x8 inci persegi. Pada salah satu bagian cap dibentuk corak atau motif.
Bahan dasar untuk membuat tembaga canting cap memiliki berat yang bervariasi. Mulai dari yang berat sampai yang ringan. Bahan baku yang ringan digunakan untuk membuat garis besar, sedangkan yang berat untuk menciptakan kerangka motif.
Canting cap terdiri dari tiga bagian utama, tiap-tiap bagian disusun sehingga bentuknya menyerupai sebuah stempel besar. Bagian pertama adalah bagian badan, bagian kedua adalah kerangka, dan ketiga adalah pegangan dari logam.
Proses pengerjaan batik cap cenderung lebih mudah dibandingkan batik tulis karena pengerjaan batik cap dikerjakan secara kontinu atau dikerjakan dengan mengulang cara yang sama. Cara pengerjaan menggunakan metode ini sama seperti menggunakan stempel untuk sebuah surat.
Harga batik cap lebih murah dari batik tulis, hal ini dikarenakan proses pembuatan yang lebih sederhana ketimbang batik tulis.
Batik cap diciptakan dengan tujuan agar masyarakat selain warga keraton dapat memiliki dan menggunakan batik. Mengingat harga batik asli yang tidak murah dan sulit dijangkau oleh masyarakat dengan ekonomi rendah.
Agar mudah membedakan batik tulis dan batik cap di pasaran, batik jenis ini disebut dengan istilah "batikan".
3. Kain Motif Batik
Jenis kain motif batik ini sebenarnya tak dapat dikatakan sebagai batik karena proses pembuatannya yang tidak memiliki unsur membatik sama sekali seperti batik tulis dan batik cap. Kain motif batik diproses dengan menggunakan komputer atau mesin.
Kemunculan kain motif batik ini dikarenakan adanya perkembangan zaman yang semakin modern. Dengan adanya perkembangan teknologi pada zaman modern, maka cara pembuatan batik dimudahkan dengan hadirnya mesin-mesin yang dapat mencetak batik dalam jumlah besar dan waktu yang relatif singkat.
Harga kain motif batik yang relatif murah dapat dijangkau oleh masyarakat umum. Tidak seperti batik tulis yang harga jualnya tidak dapat dijangkau semua kalangan masyarakat.
Kehadiran jenis batik ini sangat disayangkan karena memberi kesan kurang baik di industri batik. Bahkan kain bermotif batik saat ini banyak didatangkan dari negara Cina dengan kualitas yang cukup dan harga yang terjangkau.
Keadaan ini mengancam eksistensi batik asli yakni batik tulis dan juga batik cap yang diproduksi di Indonesia. Selain itu, konsumen juga sulit membedakan mana batik asli dan yang bukan.
SALAH SATU BATIK INDONESIA
Motif Batik Megamendung
Salah satu motif batik khas Cirebon yang populer adalah motif megamendung. Nama megamendung sendiri berarti awan sejuk.
Inspirasi motif batik ini adalah bentuk awan pada genangan air hujan dan cuaca mendung. Kekhasan motif megamendung adalah pola garis awan dengan bentuk yang agak lonjong.
Batik ini memiliki komposisi warna dasar motif yakni merah dan biru yang menggunakan tujuh gradasi warna.
Motif Batik Parang
Motif batik parang merupakan motif khas Jawa yang paling populer. Ciri khas motif batik ini adalah bentuk diagonal yang tegas.
Sekilas, susunan motif batik parang menyerupai huruf S, atau ombak laut yang saling berkaitan tidak terputus. Konon, motif batik parang telah eksis sejak masa Mataram Islam.
Secara filosofis motif batik parang membawa pesan untuk tidak pernah menyerah. Sedangkan kontinuitas pada motif parang memberikan filosofi sebuah perjuangan yang tidak pernah putus.
Motif Batik Sidomukti
Motif batik sidomukti berasal dari Solo, Jawa Tengah. Batik ini dibuat dengan zat pewarna soga (cokelat) alami.
Bentuk motifnya meliputi kombinasi antara beragam ornamen yang rumit, seperti bunga dan kupu-kupu. Secara filosofi, motif batik sidomukti memiliki makna kemakmuran dan kesejahteraan. Umumnya motif batik sidomukti dikenakan pada upacara adat.




Komentar
Posting Komentar